Marketing Begajulan

Pertanyaan yang hinggap di pikiran dan setiap sendi tubuh saya jika memikirkan masalah pekerjaan adalah how to sell? bagaimana cara berjualan? bagaimana cara berjualan sebuah produk desain. Selama ini yang saya tahu cara menjual desain adalah dengan cara pamer atau bahasa kerennya show off ke semua orang.

“eh liat deh desain gw”, “eh gw bikin ilustrasi baru loh”, “eh gw dah bisa ngewarnain komik loh”, dan segala macam ungkapan yang saya lontarkan dengan satu tujuan, agar banyak orang yang tau apa kebiasaan saya, dimana bidang kemampuan saya dan pekerjaan apa saja yang bisa saya lakukan dengan baik. Atau kata orang-orang sih cara yang saya gunakan masuk ke dalam kategori soft sell.

Itu dulu ketika masih dengan bangganya menyandang tempelan status desainer grafis. Nah mulai bulan oktober ini, yang sudah berlangsung selama 15 hari ketika post ini dibuat, marketing adalah jobdesk baru saya di kantor. Keritinglah otak dibuatnya. Gimana gak keriting bin kriwil coba, selama kurang lebih 6 bulanan saya bekerja di belakang komputer, hampir gak pernah bertatap muka dengan orang lain, kecuali temen-temen kantor sama klien yang berkunjung ke kantor, selebihnya ya via FB atau YM, tapi tetep ajah rasanya beda dibanding kita ketemuan langsung dan bisa tertawa bareng secara real, dan tentu saja kondisi seperti ini membuat sosialisasi saya otomatis terganggu, boro-boro kenal kawan baru, ketemu kawan lama ajah hampir gak pernah lagi.

Dua hal ini sudah membuat saya sedikit kebingungan, padahal dua hal ini merupakan poin poin penting untuk seorang marketing.

1. Saya terbiasa melakukan soft sell untuk cara “menjual produk” saya.

Ketika menjadi marketing saya dituntut untuk bisa menghasilkan target sekian rupiah nett untuk satu bulannya, yang berarti harus melakukan tindakan cepat untuk bisa menghasilkan rupiah2 tersebut agar bisa menembus target yang sudah ditetapkan kantor untuk tiap-tiap bulannya. Ini bertolak belakang dengan cara soft sell karena Dampak datangnya “rejeki” yang datang dari soft sell hampir tidak pernah cepat alias membutuhkan waktu, jadi cara soft sell saya bertolak belakang dengan waktu. Satu start yang kurang baik bukan?.

2. Keadaan sosialisasi yang sedikit terganggu.

Jaringan, kenalan, relasi, lingkar dalam adalah suatu hal yang wajib dipunyai oleh setiap marketing. Setidaknya hal ini bisa mendatangkan peluang-peluang pekerjaan yang berujung pada pendapatan rupiah dan bisa jadi memuluskan sebuah pekerjaan yang sedang kita perjuangkan ataupun yang sedang berjalan. Karena terganggunya sosialisasi, secara otomatis mengurangi juga peluang-peluang pekerjaan yang seharusnya bisa didapatkan.

Dan kalo mau ditilik lebih dalam lagi sih masih banyak kekurangan saya untuk menjadi seorang marketing selain dua hal diatas, masih banyak yang harus saya cari tahu, saya pelajari, saya pahami dan saya praktekan sehingga bisa mencapai target yang sudah diamanatkan.

Jadi saat ini sambil belajar saya melakukan hal-hal yang bisa saya kerjakan, dimulai dari hal yang kecil seperti memperbaiki kehidupan sosialisasi saya. Temu kangen sama temen-temen, bisa nonton bareng, kongkow bareng, ketawa-ketawa bareng, yang nanti entah bisa mendatangkan peluang atau tidak itu sih belakangan, yang terpenting saya bisa lagi bersilaturahmi dengan kawan-kawan lama. Toh katanya rejeki bisa datang dari silaturahmi bukan? dan saya percaya akan itu.

Jadi, sebagai marketing begajulan, marketing yang tidak tahu bagaimana caranya menjual, saya lakukan apa yang bisa dilakukan, pelajari apa yang belum diketahui, pahami yang sudah dipelajari, praktekan apa yang sudah dipahami dan biarkan Allah menuntun menuju rejeki-rejeki yang sudah disiapkan-Nya.

doakan saya yah  ^_^

Salam

Helmi Himawan