Be, Do, Have

Sambil menikmati ketidak menarikan malam minggu ini saya akhirnya memilih untuk browsang-browsing dunia maya. Asiknya browsing mengantar saya pada sebuah blog yang beralamatkan motivasi-islami.com. Disana saya membaca sebuah artikel tentang be, do, have, sebuah rumusan dari the law of attraction. Hukum yang membuat orang untuk mulai berani bermimpi gak nanggung-nanggung. Ada sedikit perubahan sikap dalam masyarakat kita, khususnya orang-orang yang ada di sekeliling saya. Dulu ketika saya menceritakan mimpi-mimpi besar saya, seperti saya ingin mempunyai rumah mungil tetapi dengan taman seluas satu hektar dengan kebun buah di belakangnya, kebanyakan dari mereka akan mengeluarkan pendapat “aaaaah ngimpi loe mi!”. Tapi saat ini, ketika saya melakukan hal yang sama dengan menceritakan mimpi-mimpi saya, kini kebanyakan dari mereka akan bilang “aaaminnnn mi aaminnnnn”. Hehehe sebuah peluang saya untuk mendapatkan doa dari banyak orang secara mereka sadar atau tidak sadar. Karena kan katanya semakin banyak yang mendoakan semakin dipermudah juga jalan terwujudnya doa itu.

Balik lagi ke masalah be, do, have atau rumusan dari law of attraction. Be, do, have ini mengingatkan pengalaman saya pada situasi seperti ini. Pada tahun 2009 kemarin seorang Jason Mraz, datang ke Indonesia pada event Java Jazz. Waow saya senang sekali karena saya sudah lama mendengarkan lagu-lagunya dan saya menyukai musik dia dan berpikir bahwa orang itu gak akan pernah datang ke Indonesia dah juga karena. Muncullah sebuah masalah ketika saya melihat harga tiket masuknya. Untuk menonton konser tersebut saya harus membeli dua tiket, yang pertama tiket untuk masuk ke Java Jazz-nya dan yang kedua tiket untuk konser khusus untuk beberapa musisi, salah satunya ya si mas Mraz ini. Sempat kecewa karena keadaan kantong saya saat itu sedang menipis, maklum baru buka usaha desain grafis dengan teman-teman jadinya sebagian besar keuangan dipakai untuk menjalankan usaha tersebut. hmmmm tidak masuk akal ketika saya benar-benar ngotot harus nonton konser tersebut, dilihat dari kantong yang cekak tadi.

Kalo mengikuti rumusan be, do, have, secara tidak sadar saat itu saya sudah memiliki modal pertama untuk meraih mimpi yaitu be. Be saya waktu itu adalah menjadi orang yang bisa menonton konser Jason Mraz di acara Java Jazz. Sebuah mimpi yang bwat sebagian besar orang cuma hal sepele, tapi bagi saya yang lagi cekak dan kepingin banget buat bisa nonton konser itu adalah hal yang besar. Nah secara sadar dan tidak waktu itu saya melakukan poin kedua dari rumusan ini yaitu Do. Dengan mencari uang lebihan? tidak, saat itu adalah saat dimana saya benar-benar fokus dalam pembangunan usaha saya, jadi tidak kepikiran bwat cari kesibukan untuk mencari uang tambahan. Nanti gara-gara cari dana tambahan usaha yang lagi saya bangun gak jalan kan sayang.

Saat itu saya cuma menceritakan ketertarikan saya pada musiknya mas Mraz kepada teman-teman saya yang waktu itu sedang main ke rumah kontrakan yang dijadikan tempat usaha saya. Menceritakan kelebihan musiknya, memutarnya berulang-ulang, mengunduh videonya dan memperlihatkannya pada mereka, sampai saya membuat dua buah poster grafis yang terilhami gara-gara seringnya memutar lagunya mas Mraz. Hal itu saya lakukan terus menerus setiap ada kesempatan baik secara langsung ataupun ketika sedang chat.

http://th05.deviantart.net/fs39/300W/f/2008/329/5/e/life_is_wonderful_by_sayahelmi.jpg

Dua hari sebelum konser berlangsung saya chat dengan seorang teman, dan dia sudah memiliki tiket untuk pergi ke konsernya mas Mraz. Saat itu saya menunjukan betapa beruntungnya dia dibanding saya, tetapi dengan pede-nya saya bilang ke dia “ya udah berarti nanti kita ketemuan ya disana”, dia bertanya “mang loe punya tiketnya mi?”, “belumlah, tiket darimana duit ajah gak ada, tapi entar kita ketemuan yah disana (sambil masang emoticon nyengir-nyengir kuda)”. Sehari sebelum konser belum ada kejelasan apakah saya bisa menonton konser itu apa nggak, tetapi malam harinya seorang teman saya yang bernama ifan menelepon saya dan bilang kalau dia punya tiket lebih konser tersebut dan menawarkannya kepada saya, “mauuuuuuu!!” sontak saya berkata begitu sama dia, “tapi nanti duitnya gw ganti kalo dah ada duit ya, paling nyicil” kata saya lagi. Eh eh eh tau-tau dia malah bilang “gak usah mi, pake ajah tuh tiket, gak usah dibayarin, daripada sayang dah dibeli gak dipake kan”.

Hasilnya saya bisa menonton konser idaman saya itu dengan tidak mengeluarkan sepeser pun. Jadi rumusan ketiga sudah berlaku disini yaitu Have. Have disini berarti saya sudah memiliki tiket untuk nonton konser dan bisa menjadi orang yang berdiri di area festival acara tersebut untuk menyaksikannya, seperti di awal mimpi saya. Alhamdu….lillah. Thx buwat Ifan, Ijal dan Yayi, emang loe semua kereeeeen banget.

Begitulah kira-kira pengalaman be, do, have, yang pernah saya alami. dan sekarang saatnya melakukan be, do, have-be, do, have lainnya yang lebih besar. Semisal kantor saya yang kini berada di Jakarta Selatan coret alias kepeleset dikit lagi bisa sampe depok nantinya akan mempunyai kantor representatif di bilangan segitiga emas. amminnnnnnnn.

helmi