4:14 AM

4:14 di pagi hari, saya belum bisa memejamkan mata. Tadi sebentar mencoba membaca buku mas arief budiman yang bertajuk Tuhan sang Penggoda. Beberapa lembar saya baca malah membuat saya kepingin menulis, akhirnya saya menyalakan komputer dan mulai menulis post ini di blog saya. Yah saya mungkin seseorang yang dilahirkan dengan kemauan untuk berbagi dengan cara saya.

Dulu ketika jaman kuliah di IKJ saya menyampaikan ide dan pendapat saya lewat komik, bahkan menyampaikan rasa sayang saya kepada wanita yang saya sukai pun lewat komik, setelah komik saya menyampaikannya lewat karakter (karena ini saya membuat Tugas akhir dengan tema kampanye pemanasan global dengan medium berbagai macam figur karakter), lewat desain poster sampai pada media t-shirt. Tidak ada satupun yang saya sampaikan melalui media yang 100% tulisan.

Ya saya memang mendoktrin pikiran saya kalau saya adalah seorang manusia yang kurang gemar membaca, apalagi kalau sudah melihat sebuah buku yang isinya tulisan semua tanpa gambar, rasanya ingin cepat-cepat menutup buku itu. Tetapi kalau dipikir ulang ada buku yang saya baca dengan sekali pegang dan langsung saya sikat habis dari awal sampai habis, buku yang berjudul Life is Beautiful karangan irvan pradiansyah. Saya suka dengan buku itu karena disitu saya tidak seperti membaca tapi seperti diceritakan. Yah mungkin saya lebih senang mendengar sebuah cerita, seperti kalimat yang pernah saya dengar disebuah film karya sutradara favorit saya om tim burton, big fish. Kalimat itu berbunyi kira-kira seperti ini, “banyak orang yang bisa menolak sebuah kebenaran, tapi tidak ada satupun orang yang menolak sebuah cerita/kisah”. Mungkin karena sifat inilah saya tidak terlalu senang membaca buku yang bersifat instruksional. Nah sekarang sih beda, saya mencoba untuk mncintai dunia tulis menulis dan baca membaca. Dan dimulai dari blog yang tulisannya masih banyak kata “saya”nya ini. hehehe.

Doktrin ini cukup lama saya jejalkan ke otak saya, dan sekarang baru terasa kekurangannya (karena selama ini saya merasa doktrin ini tidak masalah untuk kehidupan saya). Sekarang saya di sebuah tahapan harus mencari tahu masalah/ilmu yang benar-benar diluar kemauan saya. Dulu hanya mau mencari ilmu yang bersifat teknis. Bagaimana cara membuat ini, membuat itu, menghasilkan bentuk ini, bentuk itu, dan lainnya. Ini didasarkan karena bidang ilmu yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu desain komunikasi visual. Jadi hal-hal yang saya mau tahu cuma masalah keteknisan saja. Kekurangan yang saya rasakan karena doktrin adalah susahnya saya menerima ilmu yang berbau masalah strategis. Apalagi ilmu ke-strategis-an ini literaturnya kebanyakan dibuat dengan bahasa yang struktural dan instruksional, belum pernah saya temukan buku yang dibuat seperti orang cerita seperti bukunya mas irvan… hmm jadi riweuh sendiri deh sekarang.

Makanya setiap doa sekarang saya menyelipkan doa yang cukup aneh, “Ya Allah buatlah saya menyukai kegiatan membaca buku dalam bentuk apapun”. Mau mencoba mendoktrin ulang pikiran agar bisa membaca buku-buku yang lebih berat tetapi tetap menyenangkan untuk membacanya. amin.

Waow sudah Subuh ternyata, Adzan di masjid seberang kantor saya sudah berkumandang. Saatnya ambil wudhu, solat trus tidur deh. biar nanti bisa bangun pagi. Maklum kemaren saya diserang penyakit malas tiba-tiba yang cukup akut, jadinya bolos ngantor deh hehehehe.

helmi