1st Time Experience

Apa memangnya pengalaman yang saya rasakan pertama kalinya setelah 25 tahun lebih ini hidup?, Naik kereta AC jawabannya. Bukan pakuan sih tapi kereta ekonomi AC. Baru pertama kali nyobain karena dulu ketika masih jadi anker (anak kereta) bersama Roker (Rombongan Kereta) Kampus belum ada yang namanya jenis kereta ekonomi AC ini, kereta AC yang berhenti di tiap stasiun, dulu cuma ada kereta Pakuan Ekspress yang langsung melaju ke Depok Baru ataupun Bogor tanpa berhenti di stasiun tempat saya turun. Hari ini ada urusan sedikit ke daerah kota, tepatnya ke Mangga Dua untuk mengambil hard disk saya yang crash alias dah almarhum gak bisa kedetek windows. Karena posisi kantor yang berada di Jakarta Selatan coret, alias sedikit lagi hampir depok, untuk ke daerah kota menggunakan motor belum jalan ajah udah berasa capeknya. Akhirnya saya dan teman saya Rudy memutuskan untuk naik kereta.

http://i476.photobucket.com/albums/rr124/cchris_id/4shared/s2809080902.jpg

Sepulangnya setelah berurusan di Mangga Dua, Via Jakarta Kota saya memesan sebuah tiket kereta ekonomi AC. Ekspetasi yang ada di kepala saya sebelum menaiki kereta ini adalah, kenyamanan, teratur, dan tidak berdesak-desakan layaknya ekonomi biasa. Yah seandainya berdesak-desakan pun tidak seperah kereta ekonomi, begitu pikir saya. Menunggu sekitar 20 menit datanglah kereta yang dinanti-nanti, bersama yang lainnya saya mulai menaiki kereta tersebut, sedikit padat memang, tapi ya wajarlah namanya juga jam-jam padat. Setelah menunggu sekitar 20 menit (lagi) kereta pun berangkat, ekspetasi awal mengenai pengalaman yang saya pikirkan buyar sudah ketika saya melihat orang-orang berdiri dengan santainya di pinggir pintu dan menghalangi pintu otomatisnya tertutup. Dan mereka pun berdiri gelantungan disana. Kata “teratur” di awal pikiran saya pun sudah hilang, ditambah masih saja ada orang-orang yang naik untuk menumpangi kereta diatas gerbongnya.Yaahh kalo begini sih samjugbo alias sama juga boong, kereta ekonomi AC ini gak ada bedanya sama kereta ekonomi biasa, cuma ada kipas angin, AC? sayang sekali gerbong yang tumpangi ACnya mati, atau mungkin gak berasa karena pintu kereta terbuka lebar slebar-lebarnya.

Pengalaman saya menaiki kereta ini dari stasiun satu ke stasiun lainnya pun bertambah, tak ada petugas yang mengecek tiket para penumpang, sehingga secara logika orang yang mempunyai tiket ekonomi atau bahkan yang tidak mempunyai tiket pun bisa naik di kereta ini. Haaahhhh kapan yah penumpang kereta bisa berubah, bisa dewasa, gak lagi semaunya sendiri, mencoba mengikuti peraturan dan menghormati hak yang dimiliki orang lain. Memang tidak semua, cuma ketika melihat ada orang-orang yang melakukan hal itu hati saya suka geram sendiri. Dipikiran saya cuma, kereta yang rapih, dengan fasilitasnya yang cukup baik sudah disediakan, kok pelan-pelan masih ingin dirusak. Dengan berdiri mengahalangi pintu menutup, gak lama.. yah pintu itu bisa jadi rusak. AC yang seharusnya bisa dinikmati, malah jadi terbuang percuma ketika banyak pintu yang menganga.

Kalo sudah begini suka sebal sama sebagian masyarakat jakarta, yang gak mau susah, maunya instan, tidak menghargai hak orang lain, dan bertindak semaunya sendiri. Jakarta oh Jakarta, kalo sebagian masyarakatnya masih begini, kapan yah kota ini bisa tertata rapih dan teratur, dan pastinya nyaman untuk ditinggali?. Cuma Tuhan yang tau dan waktu yang akan menjawab.

helmi